| IndonesiaTennis. Jakarta 24 Pebruari 2010. Seperti dapat dibaca diwebsite Pelti, hasil dari Rakernas Pelti yang dibuka Sabtu 20 Pebruari 2010 berlangsung hingga hari Minggu, bertempat di Hotel Menara Peninsula Slipi Jakarta yang adalah milik Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja, telah menghasilkan kesepakatan mengenai batasan umur atlet tenis peserta PON 2012 nanti, 21 tahun dengan batas kelahiran 1 Januari 1991 atau lebih muda. Kesepakatan ini tentu saja disambut dengan meriah oleh Pengurus Daerah Pelti, karena akan terbuka peluang lebih besar bagi mereka untuk mendapatkan medali dengan materi petenis setempat yang dapat dipersiapkan dalam dua setengah tahun ini atau didapatkan dengan "harga" lebih murah dibandingkan petenis kelas atas Indonesia seperti Christopher Rungkat, Ayu Fani Damayanti dll yang selama ini telah menjadi andalan DKI, yang tentu saja telah mematok harga, konon sekitar 500an juta rupiah. Sekilas terlihat bahwa kesepakatan ini akan berdampak sangat positif bagi pembinaan prestasi pertenisan Indonesia dibandingkan sebelumnya khususnya di yunior, namun kesepakatan ini jelas telah menyimpang dari prinsip Sea Games, Asian Games dan Olympiade yang menjadi inspirasi dan kiblat dari penyelenggaraan PON, yaitu atlet peserta tanpa batasan umur. Juga batasan umur Putra dan Putri semestinya dibedakan, sedikitnya 2 tahun untuk putri lebih muda, mengingat bahwa usia kematangan biologis putri sedikitnya 2 tahun lebih cepat dibandingkan putra. Dengan ketentuan ini maka PON bukan lagi menjadi pasar terbesar dari petenis papan atas Indonesia seperti dimasa lalu dan tentunya diharapkan dengan kondisi ini petenis "kedaluarsa PON" harus mampu berkiprah di ajang internasional bila ingin eksis, karena turnamen nasional kelihatannya semakin lama semakin susut eksistensinya. Sebaliknya bagi petenis yunior yang sedang hangat hangatnya mengejar poin ITF dan tentunya berbiaya besar, maka diharapkan dengan situasi PON 2012 yang baru ini, dapat menjadi titik tolak peluang mendapatkan dukungan pembinaan dari daerah untuk berlatih dan mengikuti turnamen. Untuk ini, diharapkan para orang tua maupun pembina petenis yunior untuk mewaspadai makelar atlet seperti terjadi berulang ulang dimasa lalu, dimana petenis hanya menjadi objek yang diperas tenaganya namun diberi imbalan seadanya. Cerita sedih petenis yang dimanfaatkan makelar merangkap pelatih/manajer, seperti terungkap dari salah satu petenis yunior asal Provinsi Indonesia Timur, hanya memperoleh "upah tampil" kurang dari 10% anggaran yang sebenarnya. Freddy Rumambi, salah satu orang tua petenis yunior berprestasi yang pada saat PON Tenis 2009 yll, dengan tegas menolak anaknya mewakili satu daerah karena tidak adanya komitmen pembinaan dari daerah tsb paska PON Tenis 2009, adalah menjadi contoh yang pantas ditiru untuk memperkuat posisi bargaining atlet tenis yunior Indonesia yang berprestasi. Saat ini petenis yunior Indonesia kelahiran tahun 91 yang masih aktif sangatlah sedikit, demikian juga kelahiran tahun 92. Petenis kelahiran tahun 93 masih cukup banyak yang aktif, namun diperkirakan meski pun digabung seluruh atlet kelahiran 91-93, tidaklah mencukupi 165 atlet untuk mewakili 33 Provinsi Indonesia, maka sejumlah atlet berprestasi kelahiran 94, 95 bahkan 96 mungkin sudah berpotensi untuk eksis pada PON 2012 nanti, terutama dibagian putri. Freddy Rumambi, DOKTOR lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini, adalah juga Sekretaris Forkopi, menginginkan Forkopi dapat lebih berperan untuk menjembatani petenis yunior Indonesia dalam mempromosikannya ke Pelti Daerah/Provinsi, melalui suatu penilaian yang transparan berdasarkan prestasi mereka, dan dapat mengajukan aturan tata cara perekrutan atlet yang berorientasi pembinaan berkesinambungan. Untuk itu tentunya diperlukan ajang seleksi yang teratur dan konon PP Pelti sudah merencanakan menyelenggarakan ajang kompetisi "PON" dengan peserta batas usia PON 2012 atau lebih muda, dengan tahun kelahiran 1991 atau lebih muda. Sementara Johannes Susanto, Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti ketika dihubungi IndonesiaTennis, mengaku sudah mendengar rencana tsb, namun belum mengetahui secara detail rencananya. |
Selasa, 29 Maret 2011
Berita
PERTENISAN INDONESIA SAMPAI 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar